This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 23 Januari 2012

Cerita Singkat Mbak Mi

“Mbak ..” sapaku setelah menaiki tangga ke lantai dua rumahku.

“Eh ..” Mbak Mi mengusap air matanya.

“Mbak kenapa?” tanyaku yang agak gugup dan khawatir karena jarang kulihat orang dewasa menangis selain di film-film yang biasanya kutonton. “Gak papa kok ..” jawabnya memalingkan wajah.

“Ada apa Mbak, cerita aja sama aku. Gapapa kok.” Saat itu aku notabenenya masih kelas 6 SD. Belum tahu apa-apa tentang masalah orang dewasa.  Namun aku beranikan diri untuk menjadi tempat curhat Mbak Mi.

Mbak Mi yang nangkring di beranda atas itu mengerjapkan matanya untuk menyingkirkan bulir air mata yang masih tersisa. “Mbak kangen sama Mas Rudi, Dek ..”

Pikiranku yang masih polos  tentu langsung membayangkan hubungan asmara orang dewasa. “Waduh, gimana ini. Apa aku udah cukup umur buat ngedengerin Mbak MI ngomong?? Aku sendiri aja ga ada pengalaman apa-apa soal yang kayak ginian.” Pikirku. Tapi sungguh tak sopan bila tiba-tiba aku pergi dan tidak jadi mendengarkan keluhannya.  Akhirnya kupilih untuk menyimak ceritanya.

“Mas Rudi itu siapa Mbak? Pacarnya Mbak ya?” tanyaku.

“Mantan, Dek ..” ungkapnya, “tapi Mbak sangat mencintai dia. Mbak ga mau pisah sama dia.”

“Nah, kalo gitu kenapa putus?” tanyaku polos.

Mbak Mi yang tersenyum simpir menghela napas. “Orang tua mbak ga ngebolehin Mbak sama Mas Rudi. Walaupun Mas Rudi selalu meyakinkan orang tua mbak untuk merestui hubungan mbak sama dia.”

“Hmm ..” aku tak bisa menanggapi apa-apa. Di dalam kepalaku cuma terbesit “Oh, begitu. Orang dewasa itu sulit juga ya.”

“Maaf ya, Dek. Harusnya mbak ga cerita macam-macam sama adek. Mbak ga ada tempat curhat buat saat
ini.” Tatapnya padaku. “ehhh.. nggak papa kali Mbak. Aku seneng kok kalo dengerin curhatan orang lain. Temen-temen juga sering curhat sama aku kok. Bahkan hobiku suka ngecomblangin orang. Haha” terangku panjang lebar. Mbak Mi menahan tawanya melihat kepolosanku. Itu membuatku sedikit lega sebab tangisannya terhenti karenanya.

“Udah, mbak. Jangan terlalu dipikirkan. Kalo sudah ya sudah. Masih banyak kok yang mau sama Mbak. Mbak kan cantik, seksi lagi. Haha” candaku. “Dasar!” Mbak Mi menggelitiki perut dan pinggangku yang membuat aku seperti cacing kepanasan.

Mbak Mi, bukanlah kakakku. Dia adalah orang yang bekerja untuk membersihkan rumahku dan membantu mamah mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Ya, orang biasa memanggil pekerjaannya dengan istilah pembantu rumah tangga. Rumahnya lumayan jauh bila ditempuh memakai sepeda karena tak ada transportasi lain selain sepeda yang bisa menembus desanya. Kurang lebih 4km jauhnya. Aku yang masih kecil merasa prihatin terhadapnya dan menganggapnya seperti kakakku sendiri.

Malam itu merupakan hari ke-3 ia bekerja di rumahku. Setelah kali pertama kulihat ia menangis, malam-malam selanjutnya aku selalu mengamati tiap malam pada jam yang sama. Dan bisa kusmpulkan kalau itu merupakan kegiatan rutinnya. Aku tidak berani menyapa. Tapi aku takut sekali jika lama kelamaan mentalnya terganggu. Dengan pikiran polosku aku berharap dia tidak bunuh diri.

Aku sangat kasihan padanya. Tidak lama, mungkin 2 tahun ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di rumah saja. Aku masih saja mengkhawatirkannya. Tapi aku tak mau terlibat lebih jauh mengusik hubungan pribadi seseorang. 1 tahun berlalu, saat aku pulang sekolah dari kegiatan OSIS di SMP ku mamah tiba-tiba memanggil, “Yan .. Mbak Mi mau nikah lho .. Kamu ikut ke acara resepsinya nggak?” tanya mamah.

“Hah? Mbah Mi nikahan?? Yeee..!” teriakku girang. Aku spontan mendatangi mamah. “lihat undangannya dong mah!”

“Nih!” mamah meletakkan lipatan kertas merah di meja rias. Aku mengambil dan membukanya buru-buru.

Nami Hidayah dan Heru Winarto

Resepsi Pernikahan : Hari Minggu, 14 Januari 2008

Aku terdiam dan meletakkan undangan itu ke tempat semula. “Aku ga ikut ke resepsinya.”

“Kenapa?” tanya mamah. “Ada acara di sekolah, Mah.” Aku membuat alasan.

“Hari Minggu memang ada acara apa?” tanya mamah lagi. “Ada acara OSIS.” Senyumku palsu. Segera aku balik ke kamar kesayanganku dan ganti baju disana. Aku ga tega bila harus datang ke acara pernikahan yang tidak ada cinta disana. Aku ga mau melihat senyum pernikahan yang palsu. Yang aku tahu cinta itu haruslah indah. Allah, aku yakin Dia punya rencana tersendiri. Tapi..

Harusnya kita semua mengambil pelajaran dari kisah ini. Benar kan?

Sabtu, 07 Januari 2012

Kisah Ibu yang Ditelantarkan

Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah mudahan bisa diambil hikmahnya...

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata :"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.

Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".

Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis atau sibuk dengan harta. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Kisah di atas mengajari kita 3 hal. Pertama, kasih sayang seorang ibu tiada batasnya. Kedua, bagaimanapun keadaan anak dan seburuk apapun sikap anak terhadap ibunya, beliau selalu membalasnya dengan cinta kasih yang tak pernah luntur. Ketiga, bhakti anak kepada orang tua terutama ibunya diuji saat Ibu kita sudah memasuki usia tua. Walau kisah dilematis diatas, pada mulanya si anak ingin menelantarkan Ibunya namun pada akhirnya mengubah jalan pikirannya.


Seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan islam! Tetapi ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang." Nabi yang mulia bersabda, "Pergilah tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu tahun."
nb: dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat islam.


Hak-hak istimewa yang diberikan Islam bagi seorang ibu, adalah karena susah payah yang telah ditanggungnya dalam mengembangkan kehidupan rohani dan jasmani anak-anaknya. Seingga hanya para ibu yang melaksanakan tugas keibuannya dengan baik, membesarkan dan mendidik anak menjadi bergunalah, yang layak mendapatkan kedudukan dan hak istimewa tersebut.

Sedangkan ibu yang justru memilih untuk bersenang-senang, berfoya-foya meninggalkan kewajibannya mengasuh dan mendidik anak, serta membiarkan anaknya di panti asuhan, sesungguhnya telah melakukan kedzaliman yang tak termaafkan terhadap anaknya. Oleh karena itu tidaklah pantas ia mengharapkan keutamaan akan hak dan kewajiban seorang ibu.


Sumber :
http://www.welovehonda.com/kartinimuda/entry,detail,1391
Buletin Al-Haqq, edisi Desember 2011 BAI FK Unissula (www.bai-fkunissula.co.nr)

Senin, 12 September 2011

Ibnu Kholdun


Ibnu Kholdun didaulat oleh dunia sebagai `Bapak Sosiologi Islam’. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buah pikirnya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffer mengagumi pemikirannya.

Tak heran, pemikir Arab, NJ Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, penulis buku yang melegenda, Al-Muqaddimah. Ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H itu memiliki nama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam.

Setelah Spanyol direbut penguasa Kristen, keluarga besar Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko dan kemudian menetap di Tunisia. Di kota itu, keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana dan tinggal di lahan milik dinasti Hafsiah. Sejak terlahir ke dunia, Ibnu Khaldun sudah hidup dalam komunitas kelas atas.

Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada diambang degradasi dan disintegrasi. Kala itu, Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun.

Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah menghafal Alquran dan menguasai tajwid. Selain itu, dia juga menimba ilmu agama, fisika, hingga matematika dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam semua bidang studi.

Studinya kemudian terhenti pada 749 H. Saat menginjak usia 17 tahun, tanah kelahirannya diserang wabah penyakit pes yang menelan ribuan korban jiwa. Akibat peristiwa yang dikenal sebagai Black Death itu, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib Jauh (Maroko).

Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya Ibn Khaldun dalam pandangan Penulis Barat dan Timur memaparkan, di usia yang masih muda, Ibnu Khaldun sudah menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika. Selain menguasai ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi, di bidang hukum, ia juga menganut madzhab Maliki.

Sejak muda, Ibnu Khaldun sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai intrik politik. Pada masa itu, Afrika Utara dan Andalusia sedang diguncang peperangan. Dinasti-dinasti kecil saling bersaing memperebutkan kekuasaan, di saat umat Islam terusir dari Spanyol. Tak heran, bila dia sudah terbiasa mengamati fenomena persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan.

Di usianya yang ke-21, Ibnu Khaldun sudah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs yang berkedudukan di Tunisia. Dua tahun kemudian, dia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran. Ia lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair).

Ia berupaya untuk bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko, yang tengah berada di Maghrib Tengah. Lobinya berhasil. Ibnu Khaldun diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan sekretaris sultan setahun kemudian. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Ibnu Khaldun kemudian meninggalkan negeri itu setelah Wazir Umar bin Abdillah murka.

Ia kemudian terdampar di Granada pada 764 H. Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.

Dua tahun berselang, jabatan strategis kembali didudukinya. Penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkatnya menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Ibnu Khaldun lalu hijrah ke Baskarah.

Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz.

Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerima kehadirannya.

Ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak berpolitik praktis lagi. Ibnu Khaldun lalu menyepi di Qa’lat Ibnu Salamah dan menetap di tempat itu sampai tahun 780 H. Dalam masa menyepinya itulah, Ibnu Khaldun mengarang sejumlah kitab yang monumental.

Di awali dengan menulis kitab Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum). Pada 780 H, Ibnu Khaldun sempat kembali ke Tunisia. Di tanah kelahirannya itu, ia sempat merevisi kitab Al’Ibar.

Empat tahun kemudian, ia hijrah ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi dosen ilmu Fikih Mazhab Maliki di Madrasah Qamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.

Ibnu Khaldun sempat mengundurkan diri dari pengadilan kerajaan, lantaran keluarganya mengalami kecelakaan. Raja lalu mengangkatnya lagi menjadi dosen di sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali menjadi ketua pengadilan dan kembali mengundurkan diri. Pada 803 H, dia bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul.

Berkat diplomasinya yang luar biasa, Ibnu Khaldun malah bisa bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Ibnu Khaldun, akhirnya kembali ke Kairo dan kembali ditunjuk menjadi ketua pengadilan kerajaan. Ia tutup usia pada 25 Ramadhan 808 H di Kairo. Meski dia telah berpulang enam abad yang lalu, pemikiran dan karya-karyanya masih tetap dikaji dan digunakan hingga saat ini.

Al-Muqaddimah Karya yang Abadi

Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya menyepi di Qal’at Ibn Salamah istana yang terletak di negeri Banu Tajin selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.

`’Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan. Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.

Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.” Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.

Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah. Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur. Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.

`’Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; `’Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. `’Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.

Sumber: http://www.gaulislam.com/ibnu-khaldun-ilmuwan-besar-dari-tunisia

Jumat, 09 September 2011

Sistem Pembelajaran di Universitasku

Bagi temen-temen yang baru masuk universitas, ada beberapa pembaharuan metode belajar dari SMA ke Perguruan Tinggi. Disini, di Universitasku, menerapkan kurikulum PBL (Problem Based Learning) yaitu pembelajaran yang berfokus pada suatu kasus sebagai bahan mentahnya kemudian melalui metode seven step jump atau tujuh langkah kasus tersebut didiskusikan bersama oleh 12 orang mahasiswa dimana ada yang menjabat sebagai ketua, sekretaris, kemudian anggota. Ada satu tutor yang membimbing agar diskusi tetap pada tempatnya. Disiplin dan terarah.
Pelaksanaannya sebagai berikut:
Ketua yang bertugas memimpin rapat mengajak doa bersama dahulu, kemudian salah satu dari anggota membacakan kasus. Nah, disini seven step jump dimulai.
#1 cari kata-kata sulit yang tidak dimengerti pada kasus tersebut dan biarkan sekretaris mencatatnya satu persatu dari anggota. Setelah terkumpul kata-kata sulit yang ada, baru boleh lanjut ke tahap selanjutnya.
#2 ajukan pertanyaan yang TIDAK melenceng dari kata utama (pokok bahasan) sehingga kasus tersebut menjadi sedikit demi sedikit terungkap.
#3 jawablah pertanyaan yang diajukan oleh teman kamu ataupun anda sendiri yang menjawab pertanyaan kamu. Meskipun berpendapat sedikit tidak apa-apa karena semua itu akan masuk dalam nilai harian kamu. Nabung nilai maksudnyaa. . hehe
#4 Ketua memberikan kesimpulan sementara, atas apa perkembangan dari kasus yang diperoleh saat itu.
#5 Ketua menentukan apa saja learning issue atau bahan yang masih belum bisa dipecahkan oleh knowledge (ilmu yang dimiliki) para anggotanya.
#6 Learning issue tersebut harus dipelajari secara mandiri dirumah dan dicari dari sumber-sumber yang jelas. Untuk kemudian didiskusikan kembali di step 7 dua hari berikutnya.
#7 mendiskusikan hasil akhir dari data-data yang telah diperoleh untuk kemudian ditarik kesimpulan akhirnya.

Kalo boleh jujur sih, aku belum terbiasa sama yang soal diskusi-diskusi kayak gini. Aku paling lemah kalo suruh diskusi. Takut kalo pendapatku di anggap salah. :(

Tapi. .  kalo ga aktif  gitu mau dapet nilai dari mana aku?? Ortu ku udah biaya'in banyak. .  Masa' aku gentar cuma hal beginian. . Ah, cuek saja lah. .  Ayo, ayo. . Belum kebiasaan mungkin. .  :D
Aku ingin buat mereka bangga dengan nilai A. Semoga saja bisa, ya Allah.  . Berikan kemudahan-Mu. .  Aamiin. .  n_n

Kamis, 04 Agustus 2011

Speaker Heart list

Blog yang masih muda ini adalah pemenuhan keinginan saya untuk mendirikan sebuah blog. -halah-

Saya Amalia F.M .. panggil saja begitu. hehe
Jadilah blog ini. Coba-coba siapa tahu saya bisa melanjutkan dan mengembangkannya lebih baik lagi. Mohon komentarnya untuk sebagai penunjang bagi saya. Atas perhatiannya, terimakasih.. :)